A.
Pengertian
Manajemen
Manajemen berasal dari bahasa
inggris to manage yang berarti mengatur, mengurus, atau mengelola.
Menurut Malayu S.P. Hasibuan, manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses
pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh
sumber-sumber lain dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu.[1]
Menurut Terry dan Franklin,
“Manajemen adalah satu proses yang terdiri dari aktivitas perencanaan,
pengturan, penggerakan, dan pengendalian, yang dilakukan untuk menentukan, dan
memenuhi sasaran hasil yang diwujudkan dengan penggunaan manusia dan sumber
daya lainnya”. Manajemen terkait dengan kejelasan tujuan atau sasaran dan
kesiapan sumberdaya serta bagaimana proses-proses mewujudkan tujuan ini.
Keempat aktivitas ini biasa disingkat dengan POAC (Planning, Organizing,
Actuating, and Controlling).
Ramayulis menyatakan bahwa
pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan).
Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat
dalam Al-Qur’an seperti firman Allah SWT: QS. As-Sajdah:5
ãÎn/yã tøBF{$# ÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# n<Î) ÇÚöF{$# ¢OèO ßlã÷èt Ïmøs9Î) Îû 5Qöqt tb%x. ÿ¼çnâ#yø)ÏB y#ø9r& 7puZy $£JÏiB tbrãès? ÇÎÈ
Artinya:
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu
naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut
perhitunganmu”
Dalam ayat diatas
diketahui baha Allah SWT, merupakan pengatur alam. Akan tetapi, sebagai
khalifah di bumi ini, manusia harus mengatur dan mengelola bumi dengan
sebaik-baiknya sebagaimana Allah SWT, mengatur alam raya ini.
Manajemen juga dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mencapai
tujuan atau sasaran yang telah ditentukan terlebih dahulu dengan memanfaatkan
orang lain (geeting thing done through the effort of other people). Dari
pengertian tersebut, tersirat adanya lima unsur manajemen, yaitu:
1.
Pimpinan
2.
Orang-orang
(pelaksana) yang dipimpin
3.
Tujuan yang
akan dicapai
4.
Kerjasama dalam
mencapai tujuan tersebut
5.
Sarana atau
peralatan manajemen (tools of management) yang terdiri dari enam macam
(dikenal dengan 6 M), yaitu:
a.
Man
(manusia/orang)
b.
Money (Uang)
c.
Materials
(Bahan-bahan)
d.
Machine (Mesin)
e.
Method (Metode)
f.
Market (Pasar)
Manajemen umumnya diartikan sebagai
proses perencanaan, mengorganisasi, pengarahan, dan pengawasan. Usaha-usaha
para anggota organisasi dan penggunaaan sumberdaya organisasi lainnya agar
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Inti dari manajemen adalah
pengaturan.[2]
Manajemen juga mengkaji efisiensi
dan efektivitas pelaksanaan kinerja organisasi dengan mempertimbangkan
tujuanorganisasi, kegiatan yang logis, jumlah sumber daya manusia atau staf
yang memadai, disiplin kerja, upah yang proporsional, bonus yang prestatif,
standar pekerjaan yang sistematis, pertanggungjawaban yang objektif, penerapan
balas jasa atau insentif yang memotivasional, dan pengembangan perusahaan yang
terukur.
B.
Pengertian
Pendidikan
Dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang
Sisdiknas dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.[3]
Dari pengertian diatas, pendidikan
mencakup tiga aspek. Pertama, usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Perndidikan harus disiapkan
dengan matangmulai dari mutu guru, kelas, media, metode, evaluasi, hingga
prasarana pendukung keberhasilan pendidikan. Persiapan yang matang ini akan
menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan di semua level.
Pendidikan yang tidak direncanakan
dengan baik akan memengaruhi mutu proses pembelajaran yang berujung pada tidak
tercapainya tujuan pendidikan. Selain kelemahan dalam perencanaan, pendidikan
kita juga lemah dalam pelaksanaan. Apa yang sudah direncanakan dengan baik
sering dilanggar, dan tidak ada sanksi terhadap pelanggaran tersebut.
Meski demikian, pendidikan tidak
hanya ada di sekolah, pesantren, dan kampus, tetapi juga terjadi di rumah.
Meski tidak tertulis, karakter orangtua di rumah akan membentuk karakter
anak-anak. Bayangkan, sejak bangun tidur, berangkat ke sekolah, pulang sekolah,
dan menjelang tidur, anak-anak berinteraksi dengan orang tua.
Di rumah, orangtua berperan dalam
pembentukan karakter, aspek penting yang mungkin gagal dikembangkan di sekolah.
Karena itu, keberadaan orantua – minimal ibu – di rumah sangat penting.
Orangtua seperti apa? Orangtua yang paham bagaimana mendidik anak melalui
ucapan dan tindakan. Tidak perlu sekolah tinggi, asal mau belajar dan
menggunakan nurani, setiap orangtua bisa menjadi orangtua baik. Di rumah,
anak-anak belajar kebersihan, kedisiplinan, kejujuran, kemandirian, dan
tanggungjawab.
Kedua, potensi siswa berupa sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Tujuan
pendidikan melahirkan manusia yang pintar, terampil, dan sholeh, manusia yang
imtaq dan iptek, manusia yang terampil dan baik terhadap sesame dan Tuhan.
Pendidikan harus menyentuh aspek afektif, kognitif, dan psikomotor siswa.
Sejarah manusia dan bangsa
membuktikan bahwa pendidikan harus mengutamakan pembentukan spiritualitas dan
emosional siswa dibanding intelektualitas siswa. Menjadi manusia utuh dan
sempurna tidak bisa bermodal kecakapan intelektual, tetapi memerlukan kecakapan
spiritual dan emosional.
Peperangan, kudeta, kemiskinan,
kelaparan, korupsi, prostitusi, perjudian, kolusi, dan nepotisme, merupakan
masalah krusial dunia yang dihadapi oleh generasi sebelum dan abad ke-21 saat
ini. Masalah mucul, sebabnya ialah langsung maupun tidak langsung, lemahnya
kecakapan spiritual dan emosional pemimpin dan manusia abad ini. Nafsu
kekuasaan dan uang menguasai para pemimpin.
Namun tidak sedikit juga manusia
yang memiliki kecakapan spiritual dan emosional di dunia ini. Manusia yang
hidupnya tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menolong sesama. [4]
Ketiga, ilmu yang bermanfaat bagi individu, masyarakat, dan bangsa.
Tujuan akhir dari sekolah dan kuliah yaitu agar manusia bisa hidup bahagia dan
membahagiakan orang lain. Banyak faktor orang menjadi bahagia: materi, jabatan,
dan keluarga. Pendidikan harus melahirkan manusia yang hidup untuk kepentingan
orang banyak, masyarakat, dan bangsa.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk
mengembangkan akhlak, keterampilan, dan pengetahuan anak dan pemuda di sekolah
atau di rumah, agar hidup mereka bahagia dan bermanfaat bagi masyarakat.